Bukan Sekadar Menutup Mata, Tidur Juga Bantu Menjaga Fungsi Otak

Jakarta – Mengingat hal baru biasanya harus dilakukan dengan serius. Namun, ternyata saat tertidur pun Anda juga bisa mengingat hal baru. Kok bisa?

Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications menemukan bahwa otak mampu membentuk kenangan baru saat tertidur. Peneliti memainkan pola suara yang kompleks saat partisipan tertidur dan menemukan bahwa mereka dapat mengenali berbagai suara tersebut saat mereka bangun.

Dalam studinya, peneliti melibatkan 20 partisipan yang kepalanya dihubungkan dengan mesin untuk mengukur aktivitas listrik pada otaknya. Sehingga peneliti dapat memonitori setiap kegiatan yang terjadi pada partisipan saat tidur sepanjang malam.

Sebelum partisipan tertidur, peneliti memainkan white noise yang diselingi oleh suara ding dan suara lainnya. Kemudian, mereka diminta untuk menyebutkan kapan mereka mendengar pola yang berbeda pada suara tersebut.

Setelah mereka tidur, peneliti pun melanjutkan memainkan pola suara yang sama dengan frekuensi yang lebih sering selama fase tidur mereka.

Pada pagi harinya, peneliti memainkan white noise dan pola suara kepada para partisipan untuk terakhir kalinya. Saat itulah peneliti melakukan observasi terhadap hal yang menarik, di mana partisipan dapat mengenali pola suara lebih baik yang dimainkan saat mereka tertidur. Lebih dari itu, partisipan juga tidak ingat bahwa pola tersebut dimainkan saat mereka tertidur.

Hasilnya tidak hanya menyebutkan bahwa Anda dapat mempelajari sesuatu saat tertidur, tapi pada tahap tertentu bisa terjadi sebaliknya. “Ingatan bisa terbentuk atau hilang saat tidur, itu tergantung pada fase tidurnya,” ucap peneliti dikutip dari Huffingtonpost.

Peneliti berteori bahwa proses ini bisa terjadi karena cara otak memilah ingatan, informasi dan hal yang diprioritaskan. Namun, masih dibutuhkan studi lebih lanjut untuk mengeksplorasi efek penuh dari hal tersebut untuk mengetahui apakah ingatan dapat meluas ke hal lain seperti kosakata atau bahasa baru.

Beragam Minuman yang Bisa Bantu Turunkan Gula Darah

Jakarta – Gula darah yang tak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi penyakit. Oleh karena itu seseorang sangat disarankan agar selalu memonitor gula darah dan melakukan berbagai cara mengontrolnya agar tetap berada pada batas wajar.

Nah apa saja yang dapat mengontrol gula darah? Teh kamomil disebut-sebut oleh studi yang dilaporkan dari sebuah studi dari University of Toyama dan Aberystwyth University termasuk salah satunya.

Selain itu dilansir The Daily Meal, Senin (14/8/2017), deretan minuman di bawah ini juga bisa membantu Anda menurunkan gula darah:

Pertama adalah teh hitam. Sebuah penelitian asal Cina menyebutkan bahwa teh hitam yang kaya kandungan polysaccharide bisa memperlambat penyerapan gula dalam tubuh ke aliran darah.

Didukung pula oleh satu studi dari Jerman, menyeruput 3-4 kali teh hitam setiap harinya bisa menurunkan risiko diabetes sebanyak 16 persen.

Selain teh kamomil dan teh hitam, air kelapa juga bisa masuk dalam pilihan. Kandungan mineral dan vitaminnya yang tinggi bisa menstabilkan gula darah. Kandungan gula yang ada dari buah yang satu ini juga tergolong rendah.

Terakhir meminum coklat panas ternyata juga bisa membantu menurunkan gula darah. Menurut American Journal of Clinical Nutrition, kokoa murni (tanpa ditambahkan gula) memberi dampak peningkatan metabolisme glukosa yang mengarah pada penurunan gula darah seseorang. Akan lebih baik untuk mencampurnya dengan susu almond agar terasa sedikit manis dengan kandungan gulanya yang rendah.

Lebih Sehat Menganggur Daripada Punya Pekerjaan Tapi Selalu Stres

Jakarta – Tidak punya pekerjaan memang sangat membebani pikiran. Tapi jangan salah, punya pekerjaan juga tidak lebih sehat jika pada akhirnya jadi sering stres.

Sebuah penelitian di University of Manchester membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki pekerjaan dengan kualitas buruk lebih banyak mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan stres. Orang-orang tersebut memiliki tekanan darah dan kadar kolesterol lebih tinggi.

Peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol berhubungan dengan gangguan kesehatan pada sistem kardiovaskular. Risiko mengalami stroke dan serangan jantung termasuk di dalamnya.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis 1.116 orang berusia 35-75 tahun yang menganggur pada 2009-2010. Para partisipan diamati hingga 2 tahun kemudian, sambil diukur beberapa indikator kesehatannya. Di antaranya meliputi tes darah.

Hasil pengamatan menunjukkan, perubahan status dari menganggur menjadi punya pekerjaan tetapi tidak berkualitas, berdampak pada berbagai indikator kesehatan. Termasuk di antaranya adalah kadar gula darah dan kolesterol yang memburuk.

“Sama halnya dengan pekerjaan yang baik akan berdampak baik bagi kesehatan, pekerjaan yang buruk juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan,” kata Prof Tarani Chandola yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari Dailymail.

Ganja Tingkatkan Risiko Kematian akibat Hipertensi

Jakarta – Seperti halnya narkoba yang lain, ganja dikenal memiliki efek yang dapat merugikan bagi tubuh. Nah, ternyata menggunakan ganja seperti kasus yang menyandung penyanyi berisiko lebih tinggi mengalami kematian akibat hipertensi. Sebelumnya, penyanyi bernama asli Marcello Tahitoe ini berurusan dengan hukum karena ganja.

Barbara Yanken, seorang mahasiswa PhD dari School of Public Health, Georgia State University, Atlanta, Amerika Serikat menyebut ganja berisiko tiga kali lipat menyebabkan kematian akibat hipertensi. Hal ini tidak mengejutkan lagi sebab ganja memang dikenal memiliki efek terhadap sistem kardiovaskular.

“Kami menemukan bahwa pengguna ganja memiliki risiko kematian dari hipertensi dan risiko meningkat setiap tahun pemakaian,” ucap Yanken dikutip dari Indian Express.

Dalam penelitiannya, Yanken merancang sebuah studi berkelanjutan yang melibatkan partisipan dari US National Health dan Nutrition Examinated Survey yang berusia 20 tahun ke atas. Pada tahun 2005-2006, para partisipan didata mengenai riwayat penggunaan ganja.

Kemudian partisipan melaporkan usia saat pertama kali menggunakan ganja dan dikurangi usia mereka saat ini untuk menghitung berapa lama pemakaian ganja tersebut. Selanjutnya, informasi penggunaan ganja digabung dengan data kematian pada tahun 2011 dari National Centre for Health Statistics.

Hasilnya, dibandingkan dengan partisipan yang tidak mengonsumsi ganja, pengguna ganja memiliki risiko kematian akibat hipertensi sebesar 3,42 kali lebih tinggi. Studi ini juga diterbitkan di European Journal of Preventive Cardiology.

Dua Sisi Masker Disebut Punya Fungsi Berbeda, Hoax or Not?

Jakarta – Baru-baru ini, beredar foto penggunaan masker yang baik dan benar. Menurut foto tersebut, dua sisi berbeda dari masker (yang berwarna dan yang putih) memiliki fungsi yang berbeda.

Bagian yang berwarna putih bisa diletakkan di dalam ketika sedang mengalami flu. Karena berfungsi untuk menyaring mikro-organisme agar tidak menyebar keluar dan menjangkiti orang lain.

Sedangkan jika tidak sedang mengalami flu, bagian berwarna putih bisa diletakkan di luar untuk menyaring mikro-organisme dari lingkungan luar agar tidak masuk ke dalam.

Menurut Business Manager Consumer Health Care Division PT 3M Indonesia, Yunadi Aulia Desmawan tidak membenarkan hal tersebut dengan kata lain hoax.

“Masih banyak masyarakat Indonesia pakai masker itu dibolak-balik, bagian dalam dipakai normal kalau mau melindungi diri dari serangan luar. Tapi pada saat sakit, mereka membalik sisi dalam ke sisi luar, dengan presepsi untuk melindungi orang lain,” ujarnya baru-baru ini.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, dr Feni Fitriani Taufik, SpP(K), MPdKed juga tidak membenarkan hal tersebut.

“Nggak benar. Yang birunya harusnya di luar,” katanya saat ditemui pada talkshow Ruang Publik dan Diskusi ‘Berani Menyuarakan Hak Perokok Pasif’ di Rivoli Hotel, Jalan Kramat Raya No. 41, Jakarta Pusat, dan ditulis Kamis (10/8/2017).

Pada foto kedua mengenai arah lipatan pada masker, dr Feni menegaskan bahwa pemakaian masker yang benar adalah bagian keras diletakkan di atas.